Ada satu fase dalam hidup yang kalau diingat-ingat lagi, rasanya masih bikin mengelus dada. Fase itu terjadi saat anak pertamaku memasuki usia 2 hingga 3 tahun—fase golden age yang kata orang lucu-lucunya, tapi buatku yang seorang laki-laki tanpa pengalaman momong anak, itu adalah ujian dengan tingkat stres paling tinggi yang pernah ada.
Dulu, sebelum atau di awal-awal menjalani peran ini, aku sering mendengar kalimat motivasi bisnis yang terdengar sangat indah:
“Enaknya kerja dari rumah dan buka usaha sendiri itu, kita bisa punya waktu berkualitas bareng anak. Bisa lihat tumbuh kembangnya setiap saat, nikmat banget!”
Teorinya memang terdengar mulus dan manis. Tapi begitu masuk ke ranah praktik? Sama sekali tidak semudah itu. Boleh dibilang, benar-benar di luar nalar.
Ketika Semua Bertabrakan di Satu Waktu
Bayangkan posisiku saat itu. Aku bekerja secara remote mengurus input data—pekerjaan yang butuh ketelitian, fokus, dan ketenangan agar tidak ada angka atau data yang salah ketik. Di saat yang sama, aku juga memutar otak dan tenaga mengurus jualan online untuk menambah penghasilan keluarga. Dan di tengah-tengah dua beban kerja itu, ada seorang balita usia 2 tahun yang sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi dunia.
Anakku tidak peduli kalau tenggat waktu input data tinggal hitungan menit. Dia tidak tahu kalau aku sedang membalas chat pembeli jualan online yang rewel. Bagi anakku yang polos, ayahnya ada di rumah, ada di depan mata, dan itu artinya ayahnya adalah temannya bermain detik itu juga. Hasilnya? Riuh luar biasa. Baru mau mengetik satu baris data, si kecil menumpahkan minum. Baru mau membungkus paket jualan, si kecil menangis tantrum karena mainannya tersangkut. Fokusku terpecah hancur berkeping-keping. Rasa lelah fisik bertumpuk dengan beban mental, hingga di satu titik, kepalaku rasanya ingin pecah.
Titik Jenuh dan Penyadaran
Aku ingat betul, ada satu momen di mana rasa cemas dan stres itu mencapai puncaknya. Aku lelah secara emosional, bingung harus berbuat apa, dan tidak tahu harus curhat ke siapa tanpa terlihat "lemah" sebagai seorang ayah. Karena sudah tidak tahan lagi, aku sampai secara impulsif mengunduh aplikasi kesehatan mental di ponselku—sekadar mencari pegangan, arahan, atau cara untuk menenangkan pikiran yang terus-menerus kewalahan.
Di situlah aku menyadari satu hal penting: menjaga anak sambil bekerja dari rumah bukanlah romantis seperti di media sosial. Ini adalah pekerjaan ganda (double shift) tanpa jeda coffee break. Tidak ada salahnya mengakui bahwa ini berat. Tidak punya pengalaman mengurus anak bukan berarti aku ayah yang gagal; aku hanya seorang manusia biasa yang sedang dipaksa beradaptasi dalam tekanan yang luar biasa tinggi.
Menerima Proses
Seiring berjalannya waktu, meski tidak langsung jadi mudah, aku mulai menurunkan ekspektasi manis yang ditanamkan oleh motivasi-motivasi bisnis itu. Aku belajar bahwa tidak apa-apa jika rumah tidak selalu rapi, tidak apa-apa jika pekerjaan harus dicicil saat si kecil tidur pulas di malam hari, dan tidak apa-apa untuk sesekali minta jeda bernapas.
Masa-masa anak usia 2–3 tahun itu kini menjadi babak dalam hidupku yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Sebuah periode yang membentuk ketahanan mentalku hingga ke batas maksimal, mengajarkanku arti kesabaran yang sesungguhnya, dan menyadarkanku bahwa menjadi seorang ayah sekaligus pejuang nafkah di rumah adalah salah satu perjuangan paling tangguh yang pernah aku lewati.